Keterlibatan Resimen Tjakrabirawa


Keterlibatan Resimen Tjakrabirawa

SENJATA Pamungkas Seumur Jagung

Akibat Peristiwa G-30-S, pasukan Tjakrabirawa dibubarkan. Gara-gara Untung,
resimen itu buntung. Saelan mengaku dikambinghitamkan.

PERJALANAN lelaki kelahiran Desa Sruni, Kebumen, Jawa Tengah, itu
berakhir di depan tim eksekusi. Namun, dalam usia yang baru 39 tahun,
pada 1965, ia telah menjadi sosok militer yang digunjingkan. Ia
satu-satunya letnan kolonel yang berani memimpin perwira berpangkat
brigadir jenderal dalam sebuah operasi singkat “mengambil” delapan
jenderal. Pria itu namanya Untung bin Sjamsuri.

Nama Untung mencuat sejak 1 Oktober 1965. Hari itu, dua kali suaranya
terdengar di seantero Tanah Air lewat Radio Republik Indonesia.
Sekitar pukul 08.00, tiba-tiba siaran berita terputus. Lalu muncul
suara Untung, yang menyatakan telah menangkap sejumlah jenderal dan
menguasai tempat-tempat vital di Jakarta.

“Ibu Kota telah jatuh dalam kekuasaan Gerakan 30 September,” ucapnya.
Ia menyatakan, segenap kekuasaan telah jatuh pada Dewan Revolusi
Indonesia yang ia pimpin sendiri. “Dengan demikian, Kabinet Dwikora
demisioner,” katanya. Untung memutuskan, semua pangkat militer di
atasnya tidak berlaku. Semua tamtama dan bintara dinaikkan pangkatnya
satu tingkat.

Untung sebelumnya kurang begitu dikenal publik. Bekas Komandan
Batalyon Banteng Raiders, pasukan khusus di Komando Daerah Militer
VII/Diponegoro Jawa Tengah, itu baru ditarik ke Jakarta pada 1964. Ia
ditunjuk memimpin pasukan elite Batalyon Kawal Kehormatan I Resimen
Tjakrabirawa. Tugasnya mengamankan Presiden selama di Istana Negara.

Tapi, saat Peristiwa G-30-S itu, Untung “bermain” di luar istana dan
di luar kesatuannya. Ia membawa anak buahnya dari Kompi C di bawah
pimpinan Letnan Satu Dul Arief. Dul diberi tugas memimpin pasukan
Pasopati. Tugas pasukan ini: Ambil jenderal-jenderal, jangan ada yang
lolos. Dengan berseragam Cakra dan senjata terhunus, pasukan Pasopati
-dibantu satu kompi Batalyon 454, satu kompi Yon 530, dan dua peleton
Brigade Infanteri Kodam Jaya- menjemput delapan jenderal dari rumah
mereka.

Kepada para jenderal itu, pasukan Dul mengatakan mengemban perintah
menjemput mereka untuk menghadap Presiden. Bukannya dibawa ke
Presiden, para jenderal itu malah digiring ke Lubang Buaya, sekitar
Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Para jenderal itu
dihabisi, dibenamkan dalam sumur, lalu ditutup dengan tanah.

Gerakan Untung itu ternyata malah membenamkan resimen Cakra. “Umur
pasukan ini ibaratnya hanya seumur jagung,” ujar Mangil dalam buku H.
Mangil Martowidjojo, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967. Mangil
adalah Komandan Polisi Pengawal Pribadi Presiden dan Wakil Presiden
beserta keluarga sejak awal kemerdekaan. Pasukan kecilnyalah yang
telah menghadapi beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap Soekarno.
Namun, baru setelah peristiwa Idul Adha, timbul gagasan membentuk
resimen Cakra.

Kisahnya terjadi pada Senin pagi, 14 Mei 1962. Saat itu, Presiden lagi
salat Idul Adha, di halaman Istana Negara. Tatkala Presiden tengah
rukuk, tiba-tiba terdengar teriakan keras: “Allahu Akbar!” Seorang
pengikut organisasi yang dilarang pemerintah, Darul Islam, menembakkan
pistol FN-45. Dor! Dua peluru melesak di dada dan kepala dua pengawal
Presiden.

Presiden dapat diselamatkan. Pelakunya dibekuk anak buah Mangil.
Namun, bobolnya keamanan istana itu membuat Menteri Panglima Angkatan
Darat, Jenderal Nasution, mengusulkan pembentukan pasukan pengawal
Istana Presiden. “Mulanya Presiden tak setuju,” ujar Mangil.

Namun, ajudan Bung Karno, Letnan Kolonel Sabur, kembali menghadap, dan
berhasil meyakinkan Presiden. “Nama Tjakrabirawa diberikan sendiri
oleh Bung Karno,” tutur Mangil. Tjakrabirawa adalah senjata pamungkas
yang sangat ampuh milik Batara Kresna, yang dapat menumpas semua
kejahatan dalam lakon wayang purwa, kegemaran Bung Karno.

Pasukan ini baru diresmikan Bung Karno pada 6 Juli 1963 di Wina,
Austria. Dalam upacara sederhana, Presiden menyerahkan tongkat komando
dan baret merah tua kepada Letnan Kolonel Sabur. Tentang baret ini,
Mangil punya kenangan sendiri. Waktu itu, tutur Mangil, Sabur meminjam
baret merah milik RPKAD, kemudian dicelup, jadilah merah tua.

“Mulai detik itulah Sabur berbenah melengkapi pasukan Tjakrabirawa,”
ujar Mangil. Sebagai komandan resimen, Sabur naik pangkat menjadi
kolonel, dan naik lagi menjadi brigadir jenderal. Wakil komandan
terpilih Letnan Kolonel CPM Maulwi Saelan, yang naik pangkat jadi
kolonel. Kepala staf adalah Letnan Kolonel Infanteri Meraokeh Santoso.
“Seluruh resimen jumlahnya sekitar 3.000 orang,” ujar Saelan.

Pasukan pengawal istana ini terdiri dari tiga kesatuan: Batalyon Kawal
Kehormatan (Yon KK), Detasemen Pengamanan Chusus (DPC), dan Detasemen
Kawal Pribadi (DKP). Yon KK bertugas hanya di istana pada lingkar
ketiga, atau sekitar 30 meter dari Presiden. Batalyon ini terdiri dari
semua angkatan.

Yon KK I dari Angkatan Darat, dipimpin Mayor Ali Ebram. Ali hanya
menjabat sekitar satu tahun. Ia digantikan Letnan Kolonel Untung, yang
kemudian bikin perkara. Yon KK II adalah bekas pasukan KKO Angkatan
Laut, yang dipimpin Mayor KKO Saminu. Kedua batalyon tersebut gantian
bertugas menjaga kawasan Istana Negara di Jakarta.

Sedangkan keamanan Istana Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring
dijaga oleh Yon KK III dan IV. Yon KK III dari Pasukan Gerak Cepat
(PGT) Angkatan Udara, yang dipimpin Mayor Sutoro. Yon KK IV dari
Brigade Mobil Angkatan Kepolisian, dipimpin Komisaris Polisi M.
Satoto, yang naik jadi ajun komisaris besar polisi.

DPC bertugas mengamankan lingkaran II, atau di luar 20 meter di mana
pun Presiden berada. Detasemen ini dipimpin Mayor CPM Djokosuyatno.
Terakhir, DKP berasal dari Angkatan Kepolisian RI, yang dipimpin
Komisaris Polisi Mangil, yang kemudian naik pangkat jadi ajun
komisaris besar polisi. DKP diberi tugas mengawal pribadi Presiden dan
keluarga pada lingkar pertama, atau 15 meter dari Presiden. Semua
komandan batalyon dan detasemen tersebut kemudian naik pangkat menjadi
letnan kolonel.

Sekitar Februari 1966, semua pasukan itu ditarik. Saelan dipanggil ke
Markas Besar Angkatan Darat oleh Jenderal Panggabean. Angkatan
Bersenjata memerintahkan agar masing-masing angkatan menarik
pasukannya. Pengamanan Presiden dan istana dialihkan kepada Polisi
Militer Angkatan Darat.

“Kami dikambinghitamkan,” lanjut Saelan, 73 tahun, yang kini menjadi
Ketua Yayasan Syifa Budi. Menurut Saelan, pasukan Tjakrabirawa yang
terlibat hanya pasukan Untung dengan kompi Dul Arief. “Jumlahnya hanya
150-200 orang,” ia menambahkan.

Saelan mengaku tak tahu-menahu adanya rencana gerakan Untung. Malam
sebelum peristiwa nahas itu, sebelum pulang mengantar Bung Karno ke
Wisma Yaso, Saelan sempat menegur Untung yang batalyonnya kebagian
jaga di istana. “Ada satu pintu yang terbuka. Saya tidak melihat
gelagat mencurigakan,” katanya.

Tapi, anak buah Untung mendapat informasi lain. Komandan Peleton
Boengkoes malam itu mendapat perintah membawa Brigadir Jenderal M.T.
Haryono. M.T. Haryono melawan. Ia tertusuk bayonet Prajurit Satu
Bakir, anak buah Boengkoes. Ia merasa tak bersalah. “Itu otentik
perintah militer,” kata ayah enam anak, dan kakek 14 cucu, yang kini
berusia 72 tahun itu kepada Asrori S. Karni dari Gatra.

“Wong Dul Arief waktu memerintah menyebutkan, diperintah komandan
batalyon atas perintah Komandan Resimen Tjakrabirawa. Siapa yang
memerintah di atas itu, saya nggak tahu,” ujar Boengkoes. Secara
pribadi, Boengkoes mengaku terkejut ketika mengetahui bahwa anggota
Dewan Jenderal-lah yang malam itu mejadi sasaran operasi mereka. “Kok,
yang menjadi Dewan Jenderal itu orang-orang baik. Coba kalau nama
lain, mungkin saya nggak kaget,” katanya.

Tapi, lanjutnya, sifat militer itu harus taat atasan. Untung sendiri,
dalam persidangan di mahkamah militer luar biasa, mengaku tak
melibatkan atasannya. Kepada majelis hakim, dalam sidang yang
berlangsung 22 Februari hingga 7 Maret 1966, ada percakapan begini:

Ketua Majelis Hakim: Sebagai anggota resimen Tjakrabirawa, kenapa
Saudara tidak melaporkan hal ini kepada komandan resimen?

Untung: Memang saya tidak melaporkan pada atasan saya, Komandan
Resimen Tjakrabirawa, karena memang rencana gerakan itu atas tanggung
jawab saya sendiri.

Hakim: Apakah Saudara dalam memberi perintah pada Dul Arief ini dalam
status Saudara sebagai Dan Yon I KK Tjakrabirawa?

Untung: Sebagai Komandan Gerakan 30 September.

Hakim: Dengan demikian, apakah Saudara berhak mengeluarkan perintah
penangkapan atau penculikan?

Untung: Memang secara hukumnya tidak berhak, tetapi berdasarkan
tujuannya saya menganggap diri saya berhak.

Untung berkeras bahwa apa yang dilakukannya semata untuk menyelamatkan
Presiden Soekarno dari rencana kup Dewan Jenderal pada 5 Oktober 1965.
Bahkan, setelah vonis hukuman mati dijatuhkan, 7 Maret 1966, Untung
tetap percaya pada misinya: menyelamatkan Bung Karno. Pengacaranya,
Gumuljo Wreksoatmodjo, mengajukan grasi kepada Presiden Soekarno pada
16 Maret. Namun, dua hari kemudian, lewat sepucuk surat yang
ditandatanganinya dari Instalasi Rehabilitasi Militer di Cimahi,
Bandung, Untung menolak upaya grasi itu. Ia sepertinya ingin membawa
misteri G-30-S ke dalam kuburnya.

Pada tahun 1958 Maulwi Saelan menjadi Wakil Komandan Batalyon VII/CPM Makassar.
Ia bertanggungjawab atas pengamanan Presiden Sukarno yang datang ke Sulawesi
Selatan dari Manado. Ternyata Bung Karno sudah mengenal Maulwi Saelan karena
penampilannya yang mengesankan sebagai kiper PSSI dalam Olimpiade Melbourne
tahun 1956.
Setelah usaha percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno pada Idul Adha tahun
1962 dan beberapa percobaan sebelumnya, seperti diuraikan dengan cukup rinci
dalam buku ini, maka diputuskan untuk membentuk resimen Tjakrabirawa untuk
mengawal keselamatan Presiden. Maulwi Saelan dipanggil dari Makassar dan
diangkat menjadi kepala staf (kemudian menjadi wakil komandan). Tanggal
kelahiran resimen khusus ini sama dengan hari lahir Bung Karno, yakni 6 Juni.
Buku ini penting untuk meluruskan sejarah Pasukan Pengawal Presiden
Tjakrabirawa. Saelan membantah pernyataan dalam buku Antonie Dake bahwa ia
sudah datang ke Halim tanggal 29 September 1965 untuk mempersiapkan tempat
istirahat Bung Karno di sana. Saelan juga menolak keterangan Ulf Sundhaussen
bahwa Saelan datang ke Lubang Buaya pada tanggal 3 Oktober 1965 diperintah
Sukarno untuk menghilangkan jejak terbunuhnya para jenderal. Justru ia
diperintah oleh Presiden untuk mengetahui keberadaan para perwira tinggi
tersebut. Pada tanggal 1 Oktober 1965 patroli pasukan Tjakrabirawa menemukan
seorang agen pilisi Kitman di depan kantor Penas, By Pass, dan membawanya ke
markas untuk diinterogasi. Kitman dengan hasil pemeriksaannya diserahkan kepada
Kodam Jaya dan selanjutnya dibawa ke Kostrad. Kitman adalah polisi yang
kebetulan ditanggap ketika terjadi penculikan para jenderal dan dibawa ke
Lubang Buaya. Ada perbedaan versi mengenai penggalian tersebut antara Saelan
dengan Kapten Bardi, ajudan Jendral Yani. Menurut Bardi mereka sedang mencari
lokasi di Lubang Buaya ketika Saelan datang kemudian. Versi Saelan adalah
sebaliknya, mereka yang sudah dulu berada di sana.
Maulwi Saelan mengungkapkan bahwa yang menembak Arif Rahman Hakim pada tanggal
24 Februari 1966 bukanlah prajurit Tjakrabirawa di depan Istana, melainkan
anggota patroli Garnisun di Lapangan Banteng. Bahkan, sebaliknya ia menuduh
Laskar Ampera Arif Rahman Hakim yang dibentuk setelah Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia (KAMI) dibubarkan 25 Februari 1966 merupakan “tentara swasta” yang
dibantu Kostrad. Laskar itu terdiri dari tujuh batalyon dengan menggunakan
nama-nama pahlawan revolusi. Menurut Saelan, Laskar Arif Rahman Hakim itu sama
saja dengan Angkatan Kelima yang ditolak mati-matian oleh Angkatan Darat.
Laskar itu antara lain dipimpin oleh Fahmi Idris yang kini menjadi Menteri
Perindustrian.
Pada bulan Maret 1966 para anggota Tjakrabirawa dikembalikan ke induk pasukan
masing-masing, sedangkan tugas pengamanan Presiden diserahkan kepada Polisi
Militer. Pada peristiwa Gerakan 30 September tahun 1965 memang ada anggota
Tjakrabirawa yang terlibat, tetapi tidak lebih dari satu kompi dari keseluruhan
empat batalyon dan satu detasemen (sekitar 4.000 orang). Sempat dihilangkan
pada masa Orde Baru, untunglah sekarang sejarah Tjakrabirawa itu sudah
dimasukkan dalam sejarah Pasukan Pengawal dan Pengamanan Presiden (Paspampres).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: