Jenderal Kedelapan


Jenderal Sukendro

Seharusnya ia ikut dimakamkan dalam parade agung 5 Oktober 1965. Tapi itulah, Tuhan bekerja dengan cara yang tidak kita mengerti. Sebuah perintah penugasan dari Presiden Soekarno, membuat nyawa Brigjen Achmad Sukendro terselamatkan. Dialah jenderal kedelapan dalam target operasi Gestok.
Achmad Sukendro dilahirkan di Banyumas tahun 1923. Seperti banyak anak muda seusianya, di jaman Jepang, ia memilih mendaftar menjadi anggota PETA. Saat revolusi, Sukendro bergabung dengan Divisi Siliwangi. Nasution yang ‘menemukannya’ segera tahu dia bukan perwira biasa. Cara berpikir dan kemampuan analisa Sukendro di atas rata-rata perwira lainnya. Karena itu saat Nasution menjadi KSAD, ia menarik Sukendro sebagai Asintel I KSAD.
Dan Sukendro ternyata tak mengecewakan. 1957, saat perwira-perwira daerah resah dengan kebijakan Jakarta dan berniat menuntut opsi otonomi, Sukendro – tentunya atas perintah Nasution – menggelar operasi intelijen. Orang-orangnya masuk ke daerah dan menginfiltrasi pola pikir perwira-perwiranya. Hasilnya, saat suasana memuncak, praktis hanya komandan di Sumatera (PRRI) dan Sulut (Permesta) yang menyatakan diri berpisah dari Indonesia. Lainnya, menarik dukungannya dan tetap dalam kibaran Merah Putih.
Tak cuma sekup nasional. Seiring dengan tugas belajar yang diperolehnya di Amerika Serikat (AS), ia juga sukses menjalin kontak dengan CIA. Beberapa program kerjasama TNI dan CIA, mampir lewat tangannya. Sampai-sampai ada anggapan pada masa itu, sosok Sukendro-lah temali utama yang menghubung Nasution dan juga Achmad Yani dengan CIA. Bahkan dalam salah satu versi skenario Gestok, karena kecerdasan dan lobi baiknya dengan CIA, Sukendro disebut-sebut sebagai salah satu orang yang layak dicurigai sebagai dalang.
Tapi Sukendro toh terantuk juga. Tahun 1959, peran aktifnya dalam praktik penyelundupan di Tanjung Priok berhasil dibongkar Jaksa Agung Gatot Tarunamihardja. Sebetulnya, ini bukan hal yang luar biasa. Toh pada saat itu, mayoritas panglima memang terbelit upaya penyelundupan, termasuk Soeharto di Kodam Diponegoro. Penyelundupan dilakukan untuk menopang keuangan militer mengingat kondisi ekonomi negara yang carut marut. Namun toh, publikasi kasus tersebut tak urung menampar juga wajah pimpinan TNI AD.
Setelah sempat silap dengan sempat menahan dan menuntut pemecatan Jaksa Agung Gatot Tarunamiharja, Nasution yang saat itu masih berada di posnya, akhirnya memutuskan meminggirkan Sukendro (Sementara Soeharto juga diparkir di Seskoad). Dalam peran barunya, Sukendro menjadi aktor di belakang Liga Demokrasi, sebuah grup antikomunis yang mengklaim pro Soekarno dan menempatkan diri menjadi rival hegemoni politik PKI. Dalam posisi ini, justru Sukendro malah dekat dengan Presiden Soekarno yang membutuhkannya sebagai penyeimbang politik komunis.
Toh gerak PKI yang lebih lihai saat itu berhasil juga merobohkan Liga Demokrasi. 1961, Soekarno terpaksa membubarkan lembaga itu dan dia mengirim Sukendro menjadi atase pertahanan ke luar negeri. Dua tahun
lamanya Sukendro di negeri orang, pada akhir tahun 1963, ia dipanggil pulang. Soekarno langsung memintanya menjadi salah satu menteri negara.
Pemanggilan ini benar-benar mengejutkan Sukendro. Mulanya ia mengira telah masuk kotak, namun ternyata karir belum berakhir. Sukendro sendiri mengartikan pemanggilannya itu adalah bagian dari strategi Soekarno dalam mengelola Manajemen Konflik. Ia dibutuhkan untuk menyeimbangkan kekuatan kabinet yang saat itu memiliki bintang dari kaum komunis, yakni Nyoto.
Cuma saat bertemu dengan Soekarno, ternyata ‘tugas’ yang diminta lebih jauh dari hal itu (lihat David Jenkins, Soeharto and His Generals) Sukendro dipanggil pulang juga untuk mengawasi gerak Pangkostrad Soeharto. Dengan pion intelijennya bernama Ali Moertopo, praktis cuma Sukendro lah yang punya kaliber untuk mengawasi Soeharto. Ibaratnya, untuk menangkap pencuri, haruslah digunakan otak pencuri juga.
(Penjelasan ini bagi saya sekaligus memberikan sedikit jawaban soal arti Soeharto bagi Soekarno di masa sebelum Gestok. Banyak literatur cenderung meremehkan posisi Soeharto di tahun 1965, karenanya ia lalu tak masuk hitungan menjadi target penculikan Gestok. Padahal, posisinya sebagai pangkostrad mestinya tak bisa diremehkan. Ia adalah sedikit dari perwira yang mampu menggerakkan pasukan. Jadi muskil rasanya jika Soekarno menafikkan orang seperti Soeharto ini hanya karena menganggapnya keras kepala. Soekarno adalah orang yang sangat sadar untuk memperhitungkan militer sampai ke soal kecil-kecilnya. Bagaimana ia selalu menjegal karir Kemal Idris – yang hanya seorang kolonel – menunjukkan hal ini. Termasuk juga saat ia memilih Yani sebagai KSAD, karena ia tahu loyalitas Yani bisa digaransi. Jadi Soeharto sebetulnya ada dalam radar pantauan Soekarno).
Segera Sukendro kembali menjadi sosok penting di tubuh militer. Namanya masuk dalam grup jenderal elit yang dekat dengan Nasution maupun Yani. Belakangan grup ini dikenal sebagai Dewan Jenderal (Hal yang ternyata diakui keberadaannya oleh Sukendro!). Anggotanya 25 orang, namun 4 motornya adalah Mayjen S Parman, Mayjen MT Haryono, Brigjen Sutoyo Siswomihardjo dan Brigjen Sukendro sendiri. Grup ini aktif melakukan counter politik untuk menandingi dominasi PKI. Lagak Sukendro ini tentu saja membuat PKI geram. Bagi PKI, perwira intelektual yang satu ini adalah bahaya laten.
Dan sejarah mengambil tempatnya lebih cepat. Faksi Sukendro (Nasution, Yani cs) digebuk dengan cepat oleh perwira-perwira AD yang dipengaruhi oleh PKI lewat aksi Penculikan Gestok. Sukendro – seperti disebut di atas – adalah jenderal ke-8 yang diincar. Urutannya; 1.) AH Nasution 2.) Achmad Yani 3.) Suwondo Parman 4.) MT Haryono 5.) Soeprapto 6.) Sutoyo Siswomihardjo 7.) DI Panjaitan 8.) Achmad Sukendro. Sementara yang lain naas, (selain Nasution yang terluka) Sukendro beruntung bisa lolos karena Soekarno memintanya menjadi anggota delegasi Indonesia untuk peringatan Hari Kelahiran Republik Cina, 1 Oktober 1965.
Babakan sejarah bergerak dengan cepat. Sekali lagi, Sukendra kalah langkah. Ia harus merelakan dirinya dikalahkan Ali Moertopo. Simpul-simpul intelijen Ali ternyata lebih ampuh mempercepat keruntuhan Soekarno, tanpa bisa dibendung Sukendro. Sukendro sendiri bukannya tak tahu apa-apa, tapi ia praktis sudah kehilangan inisiatif sejak Soeharto dengan cepat menjadi otoritas pemegang kebenaran politik pasca Gestok. Dalam pertempuran, kehilangan inisiatif berarti juga kekalahan itu sendiri!
Namun setidaknya, Sukendro masih mencoba berupaya. Apa yang disebut mantan Dubes Kuba dan juga teman dekat Soekarno, AM Hanafi, dalam biografinya memperlihatkan hal itu. 11 Maret 1966, ketika Presiden diikuti para waperdam tergopoh-gopoh menuju Bogor karena takut dengan Pasukan Kemal Idris, Sukendro menyarankan AM Hanafi untuk mengejar presiden dan menempelnya dimanapun juga Soekarno berada. “Jangan tinggalkan bapak sendirian,” kata Sukendro. Entah apa maksudnya. Mungkin insting intelijennya sudah membaca arah zaman. Apapun AM Hanafi hanya bisa menyesal. Ia tak kebagian helikopter pada hari itu. Petang itu juga juga utusan Soeharto berhasil mendapatkan surat penyerahan kekuasaan (Supersemar).
Kehidupan Sukendro pasca bertahtanya Soeharto, praktis redup. Namun meski tenggelam ia tak lantas terdiam. Dalam sebuah kursus perwira di Bandung, ia secara mengejutkan mengakui keberadaan Dewan Jenderal. Akibatnya, Soeharto yang notabene juga rekan dekatnya, lewat tangan Pangkopkamtib Jenderal Sumitro menggiringnya untuk ikut merasakan dinginnya sel RTM Nirbaya Cimahi selama 9 bulan. Tentunya tanpa pengadilan.
Lepas dari tahanan, Sukendro ditampung Gubernur Jateng, Supardjo Rustam. Ia diberi kepercayaan mengelola perusahaan daerah Jateng. Meski demikian, rada Soemitro tak serta merta mendepaknya. Setiap kali terdengar ada gerakan antipemerintah, Sukendro adalah orang pertama yang didatangi Soemitro. “Tidak ada orang intelijen yang lebih hebat daripada dia. Karena itu saya selalu mencurigainya,” kata Mitro.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: