Motor Bergetar


Kaki, pantat, sampai telapak tangan kesemutan. Bukan karena ada gula, terus diserbu semut. Atau, karena peredaran darah terhambat. Tapi, pas ngegas tunggangan sampeyan terasa ada getaran alias vibrasi.

Dari gejala itu, bisa diraba masalah utama yang ada. Jangan main tebak-tebak buah manggis. Mending baca terus sampai abis. “Banyak kasus seperti itu berasal dari mesin,” jelas Paulus Suwandhi, Kepala Seksi Instruktur Teknik Roda Dua, PT Indomobil Suzuki International (ISI).

Vibrasi dari mesin bisa dicek saat kondisi idle atau langsam. Buka gas bertahap. Sepertiga, setengah putaran, dan langsung buka penuh. Seandainya masih terasa getaran saat suara mesin pelan-pelan turun, berarti memang dari mesin. “Penyebab utamanya kemungkinan besar kruk-as sudah nggak balance. Pas putaran tinggi posisinya bergeser,” terang Paulus yang berkantor di Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Ini penyebab utama. Sejak langsam sampai putaran atas motor gemetar. Tapi, bisa juga komponen lain. Kampas kopling habis. “Kampas sudah enggak nempel sempurna dengan pelat. Akibatnya putaran mesin nggak maksimal. Seperti dipaksa. Efeknya bikin getaran,” jelas Dwi Supriyatno, Service Engineer Technical Service Division, PT Wahana Makmur Sejati (WMS), main dealer Honda wilayah Jakarta-Tangerang.

Tapi, paling sederhana sih cek dulu pegangan mesin alias engine mounting, komstir, atau pemasangan rantai enggak sejajar. Kalau kendur, tinggal dikencangkan. “Seandainya masih getar, berarti memang sumbernya di mesin,” yakin Dwi yang berkantor di Gunung Sahari, Jakarta Pusat

SETING SPUYER

Kasus khusus nih. Bisa jadi dialami saat motor sampeyan dimodifikasi sedikit. Misal, ganti knalpot. Cuma ganti knalpot, tanpa setingulang spuyer. Motor kencang, tapi pas kecepatan tertentu mulai terasa getar. Terutama waktu jarum di atas 80 km/jam.

Diprediksi suplai bahan bakar kelewat miskin. Motor dipaksa bekerja, tapi tidak sesuai dengan pasokan bahan bakar. “Ini bisa terjadi di motor standar juga karena mengejar irit. Kalau mau enak, spuyer dinaikkan,” terang Paulus Suwandhi.

GANJAL PEGANGAN MESIN

Ini cara supaya mengurangi rasa getar. Banyak dipakai buat motor balap kelas standar. Termasuk juga diaplikasi motor modifikasi harian. Coba tengok lubang buat as pegangan mesin. Memang, beberapa tipe menggunakan karet peredam alias busing.
Tapi, enggak semua jenis motor memasang busing. Tinggal pas karet peredam deh. Seukuran lubang engine mounting. “Cukup dipasang di ujung kanan-kiri,” ujar Andri ‘Aming’ Aliwarga, builder Laksa Motor, Jakarta.
Stang getar bisa macem2 sumbernya bro, gag hanya dari sektor depan.
Selain sektor depan (komstir, dkk), coba cek bearing roda depan belakang, swing arm (bushing +bautnya), dan mounting mesin.
coba cek semua baut2 terutama baut mesin dan yang berhhubungan dengan roda dan swing arm…
simpel aja om, kalo semua sudah dicek dan masih balance, kemungkinan besar karena settingan mesin yang tidak pas sehingga mengakibatkan getaran yang berlebihan, mulai dari setting karburator sampai adakah bunyi2an aneh di mesin, pengalaman gw sih begitu, karena motor nahan larinya sehingga mengakibatkan getaran berlebihan.

Beberapa waktu yg lalu, motor saya, Kirana 2003, bergetar setang kemudinya
Hal ini hanya terjadi kalau saya mengendarainya dgn kecepatan sekitar 50an km/jam, kemudian lepas pegangan dua2nya.  (Kids, don’t try this yourself, kecuali jalanannya mulus, lancar, dan siap jatuh :-) )  Setang akan berbelok sendiri ke kiri, kanan, kiri, dst dgn cepat, dgn frekuensi kira-kira 10 Hz.  Anehnya jika motornya berjalan lebih lambat atau lebih cepat, getaran ini akan hilang sendiri.
Dalam bahasa teknisnya, ini adalah kasus wheel shimmy.  Mungkin bagi yg punya latar belakang aeronautics engineering, pernah mendengar terminologi ini.  Kalau di pesawat terbang, wheel shimmy kadang terjadi di nose landing gear, di mana si nose gear akan berbelok-belok ke kiri dan ke kanan dgn cepat, sehingga as rodanya harus dibuat offset dgn steering columnnya.  Duh jadi ingat dgn pelajarannya David Birdsall nih :-p
Mulailah saya melakukan investigasi.  Langkah pertama, cari arsip di milis motor ttg hal ini.  OK dapat.  Penyebabnya umumnya adalah:
1. Komstir kendor
2. Pelek peang
3. Jari2nya ada yg kendor atau terlalu kencang
4. Kampas rem yg tidak benar dudukannya
OK, keempat2nya hal yg mungkin.  Apalagi gejala wheel shimmy itu baru terasa setelah roda depan motor ini masuk dgn keras ke lubang yg agak dalam di jalan (jalan masak ada lubangnnya ya?  hehehe). 
Mulailah aku cek setang dan kolom kemudinya.  Aku goyang2 depan belakang kiri kanan, nggak ada yg longgar.  Jg sudah servis rutin di AHAS.  Jadi bukan masalah komstir.
Kemudian cek pelek dgn cara keponakan disuruh duduk di jok belakang motor yg sedang distandar tengah, kemudian memutar roda depan.  Terlihat peleknya masih cukup seimbang, nggak goyang inul.
Kemudian aku cek jari2 dgn cara mengetuk2 tiap jari dgn kunci pas.  Ada beberapa jari yg pas diketuk nggak berbunyi tuing tuing.  OK.  Tinggal kencangin aja.  Nggak masalah.
Roda juga masih bisa berputar dgn lancar dan licin, karena itu nggak mungkin karena rem.  Lagian Kirana kan rem depannya masih tromol, bukan disc, jadi masalahnya kemungkinan besar bukan di rem.
Tapi, wheel shimmy ini masih terjadi!  OK, that’s it.  Aku harus pakai ilmu engineering nih.  Wheel shimmi seperti pada pesawatkah?  Sepertinya tidak, karena ada offset antara as roda dgn kolom setir.  Lagipula as rodanya dipasang di depan shock breaker.  Juga, sebelumnya motornya tidak ada masalah seperti ini.
Karena gejalanya adalah getaran yg teratur frekuensinya, maka ini harus berhubungan dgn sesuatu yg bergerak secara reguler.  Dan kelihatannya tidak berhubungan dengan mesin, karena gejalanya timbul pada KECEPATAN tertentu, bukan nilai RPM mesin tertentu.
OK, aku tebak, mungkin berhubungan dgn roda.  Untuk memastikan apakah berhubungan dgn putaran roda, aku bikin perhitungan sederhana.  Pada pelek motor, ada angka 17.  Mungkin diameter peleknya dalam inci, atau 40 cm an.  Kalau dgn bannya mungkin hampir 50 cm an, sehingga diameternya sekitar 1.5 m.  Karena setang bergetar dgn frekuensi kira-kira 10Hz, berarti dalam 1 detik motor melaju 15 meter.  Berarti kecepatannya 54 km/jam.  Klop!  Jadi hasil perhitungan sesuai (kurang lebih) dgn hasil pengamatan.
Jadi masalahnya berhubungan dgn ban.  Tapi ban normal2 aja khan, berdasarkan investigasi sebelumnya?  Akhirnya, to cut the story short, 2 bulan kemudian barulah ketahuan bahwa masalahnya di bearing/laher yg sudah oblak.  Setelah 2 bulan itu, si laher sudah cukup rusak, walau sedikit, sehingga ketika digoyang2 roda terasa agak oblak, terdengar suara klek klek klek.  Akhirnya, gantilah lahernya, dua, di AHAS dgn harga total 50 ribu rupiah.  Setelah itu, tidak ada masalah wheel shimmy spt sebelumnya *happy ending*.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: